Sekolah Hutan Orang Utan di BOSF Palangka Raya: Ada Jenjang dari Baby School hingga Universitas, Ini Materi Pelajarannya

Penulis: Puguh Triyono  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 19:29:31 WIB
Orang utan di BOSF Palangka Raya menjalani jenjang pendidikan dari baby school hingga tahap pra-pelepasliaran.

PALANGKA RAYA — Rehabilitasi orang utan di Kalimantan Tengah tidak sekadar merawat dan melepasliarkan, melainkan melalui kurikulum ketat di 'sekolah hutan'. CEO BOSF, Jamartin Sihite, mengibaratkan proses ini seperti jenjang pendidikan formal pada manusia.

"Setelah baby school mereka masuk forest school seperti SD sampai SMA, lalu ke pulau pra-pelepasliaran seperti universitas sebelum dilepasliarkan," jelas Jamartin, Kamis (4/6/2026) lalu.

Apa yang Dipelajari di 'Sekolah Hutan'?

Materi pelajaran di sekolah hutan bukan sekadar simbolis. Orang utan benar-benar diajarkan keterampilan dasar yang wajib dimiliki di alam liar. Jamartin menegaskan bahwa istilah 'sekolah' di sini merujuk pada tempat mereka belajar keterampilan vital.

"Orang utan itu belajar membuat sarang, belajar mencari makan, dan keterampilan lain yang mereka butuhkan di alam liar. Jadi yang dipindahkan itu sekolahnya, bukan sekadar orangutannya," ujar Jamartin.

Selama proses pembelajaran, setiap individu didampingi oleh pengasuh atau babysitter. Satu pengasuh biasanya menangani dua hingga tiga orang utan, mengawasi mereka saat belajar memanjat dan mencari makan.

Tahap Pra-Pelepasliaran: 'Universitas' bagi Orang Utan

Pada jenjang tertinggi atau tahap pra-pelepasliaran, orang utan ditempatkan di pulau khusus yang menyerupai habitat asli. Di sinilah mereka dilatih untuk benar-benar mandiri tanpa ketergantungan pada manusia.

"Di pulau itu mereka belajar hidup sendiri, mencari makan, membuat sarang, dan mengenali ancaman tanpa bantuan manusia," jelas Jamartin.

Meski dinyatakan lulus dan dilepasliarkan, BOSF tetap melakukan pemantauan untuk memastikan kemampuan bertahan hidup mereka berjalan baik. "Sama seperti manusia, tidak semua teori langsung bisa diterapkan di lapangan," pungkasnya.

Mengapa Interaksi dengan Manusia Dibatasi Ketat?

Seluruh proses pembelajaran dilakukan dengan pengawasan ketat namun tetap membatasi interaksi dengan manusia. Hal ini untuk menjaga agar orang utan tidak kehilangan sifat liarnya.

"Kami tidak bisa terlalu mengekspos karena mereka harus dijauhkan dari manusia. Mereka tidak boleh menganggap manusia sebagai teman," tegas Jamartin.

Sebelumnya, sempat viral video sekelompok orang utan yang tampak naik bus. Jamartin menjelaskan bahwa momen tersebut adalah bagian dari proses rehabilitasi saat mereka dipindahkan ke 'sekolah hutan' baru di Nyaru Menteng, Palangka Raya. Pemindahan menggunakan bus dilakukan karena jumlah individu yang cukup banyak, yakni lebih dari 10 ekor dengan rentang usia satu hingga empat tahun.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top