Juhu Singkah: Kehangatan Tradisi Dayak dalam Semangkuk Sup Ikan Rebung

Penulis: Muammad Amran  •  Minggu, 08 Februari 2026 | 12:10:05 WIB
Semangkuk Juhu Singkah menampilkan keaslian rasa tradisi kuliner Dayak Kalimantan Tengah.

Jika Anda menelusuri kekayaan kuliner Nusantara, Pulau Kalimantan—khususnya Kalimantan Tengah—menyimpan rahasia dapur yang sangat dekat dengan alam. Salah satu primadona yang selalu berhasil memikat hati (dan lidah) para petualang rasa adalah Juhu Singkah. Hidangan ini bukan sekadar sup ikan biasa; ia adalah manifestasi dari kearifan lokal masyarakat Dayak dalam mengolah hasil bumi dan sungai. Perpaduan antara ikan air tawar yang lembut dengan tekstur renyah rebung bambu muda menciptakan simfoni rasa yang segar, asam, dan sangat autentik.

Bagi masyarakat Dayak, Juhu Singkah adalah hidangan rumahan yang penuh kenangan, namun juga memiliki tempat terhormat dalam berbagai jamuan tradisional. Mari kita selami lebih dalam rahasia di balik kesegaran kuah kuning yang ikonik ini.


Apa Itu Juhu Singkah?

Dalam bahasa Dayak Ngaju, Juhu berarti sup atau masakan berkuah, sedangkan Singkah merujuk pada rebung atau umbut, bagian muda dari tanaman bambu atau rotan yang masih sangat lunak. Juhu Singkah adalah masakan berkuah kuning bening yang menonjolkan rasa asli dari bahan-bahannya tanpa ditutupi oleh lemak santan yang berat.

Keunikan hidangan ini terletak pada penggunaan umbut rotan atau rebung bambu yang memberikan sensasi rasa sedikit pahit yang elegan (bitter-fresh) dan tekstur renyah yang unik. Dipadukan dengan asam alami dan bumbu rempah sederhana, Juhu Singkah menawarkan profil rasa yang sangat bersih di langit-langit mulut, menjadikannya penawar rasa lelah yang sempurna setelah beraktivitas di bawah teriknya matahari Borneo.


Bahan Utama: Keselarasan Hasil Sungai dan Hutan

Kunci kelezatan Juhu Singkah terletak pada kesegaran bahannya. Masyarakat Dayak sangat mengutamakan bahan yang diambil langsung dari alam sekitar.

1. Ikan Air Tawar (Gabus atau Patin)

Ikan menjadi elemen protein yang memberikan rasa gurih alami pada kaldu. Dua pilihan yang paling populer adalah:

Ikan Gabus (Haruan): Memiliki daging yang padat, putih, dan tidak mudah hancur saat direbus. Ikan ini sangat dihargai karena kandungan gizinya yang tinggi.

Ikan Patin: Bagi pecinta tekstur yang lebih lembut dan "lumer", patin adalah pilihan tepat. Lemak alami dari ikan patin akan memberikan sedikit kekayaan rasa pada kuah bening Juhu Singkah.

2. Rebung Bambu Muda atau Umbut Rotan

Inilah yang memberikan karakter pada Juhu Singkah. Bagian inti yang muda ini diiris tipis-tipis. Rebung memberikan tekstur crunchy yang kontras dengan kelembutan daging ikan.

3. Bumbu Rempah dan Asam Kandis

Bumbu dasarnya sangat minimalis namun efektif: kunyit untuk warna kuning cantik, lengkuas, bawang merah, dan bawang putih. Namun, jiwa dari kesegarannya berasal dari Asam Kandis. Asam kandis memberikan rasa kecut yang tajam namun bersih, berbeda dengan asam jawa yang cenderung manis atau cuka yang terlalu menusuk.

4. Serai dan Pucuk Daun

Batang serai yang digeprek memberikan aroma sitrus yang menenangkan dan membantu menghilangkan aroma amis pada ikan. Seringkali, masakan ini juga ditambah pucuk daun ubi atau sayuran hijau lainnya untuk menambah tekstur.


Cita Rasa: Simfoni Asam Segar yang Eksotis

Bayangkan kepulan uap hangat dari semangkuk Juhu Singkah yang baru saja diangkat dari tungku. Aroma serai dan kunyit langsung membangkitkan selera. Saat mencicipi kuahnya, rasa pertama yang menyapa adalah asam segar dari asam kandis yang seketika membuat mata terjaga.

Setelah itu, muncul rasa gurih kaldu ikan yang "jujur" tanpa tambahan penyedap rasa berlebih. Yang paling unik adalah aftertaste sedikit pahit yang sangat samar dari rebung, yang justru menambah dimensi rasa sehingga hidangan ini tidak terasa membosankan. Tekstur ikan yang lembut berpadu dengan rebung yang renyah menciptakan pengalaman mengunyah yang sangat memuaskan. Ini adalah rasa yang mencerminkan hutan hujan Kalimantan: segar, liar, namun sangat menenangkan.


Rekomendasi Tempat Makan Juhu Singkah di Palangkaraya

Jika Anda sedang berada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, berikut adalah tiga destinasi kuliner terbaik untuk mencicipi Juhu Singkah yang autentik:

Nama Rumah MakanLokasiKeunggulanEstimasi Harga
RM Sederhana (Khas Dayak)Jl. SudirmanMenyajikan Juhu Singkah dengan resep paling tradisional dan ikan tangkapan sungai hari itu juga.Rp 35.000 - Rp 60.000
RM Kampung LaukTepi Sungai KahayanMakan Juhu Singkah di atas rakit (lanting) sambil memandang Jembatan Kahayan. Atmosfernya luar biasa.Rp 45.000 - Rp 85.000
RM Kum-KumKawasan Wisata Pahandut SeberangTerkenal dengan olahan ikan patin dan umbut rotan yang bumbunya meresap sempurna.Rp 40.000 - Rp 75.000

Tips Menikmati Juhu Singkah: Cara Lokal yang Hakiki

Agar pengalaman bersantap Juhu Singkah Anda mencapai titik maksimal, ikuti langkah-langkah ala warga lokal berikut:

Sajikan dengan Nasi Hangat: Kuah asam segar Juhu Singkah sangat cocok dipadukan dengan nasi putih yang masih mengepul. Nasi akan menyerap kaldu kuningnya, menciptakan harmoni rasa di setiap suapan.

Sambal Terasi atau Sambal Limau: Tambahkan sedikit sambal terasi khas Dayak atau sambal dengan perasan limau kuit untuk memberikan tendangan pedas yang menyeimbangkan rasa asam.

Lauk Pendamping: Juhu Singkah sangat serasi jika didampingi dengan ikan asin goreng atau kacang tanah goreng untuk memberikan variasi tekstur renyah dan asin.

Minum Teh Tawar Hangat: Tutup santapan Anda dengan teh tawar hangat untuk menetralkan rasa di mulut dan memberikan rasa nyaman di perut setelah menikmati hidangan asam.

Juhu Singkah bukan sekadar sup, ia adalah sepiring cerita tentang hubungan manusia Dayak dengan sungai dan hutannya. Keberadaannya terus lestari sebagai pengingat akan kekayaan alam yang harus dijaga. Jika Anda mencari jati diri rasa Kalimantan, carilah dalam semangkuk Juhu Singkah.


Apakah Anda ingin saya memberikan pilihan judul tambahan dan membuatkan gambar ilustrasi untuk Juhu Singkah ini?

Reporter: Muammad Amran
Back to top