SAMPIT — Upaya pemadaman di dua titik kebakaran itu belum mampu mengendalikan api. Petugas yang diterjunkan sejak beberapa hari lalu masih berjibaku di lokasi, termasuk pada malam hari.
Halikinnor menuturkan, titik api di Camba tergolong besar. Posisinya yang jauh dari aliran Sungai Mentaya membuat pasokan air untuk pemadaman sangat terbatas.
"Ini yang titik apinya cukup besar, dan ini kendala kita untuk penanganan ini. Pertama, masalah ketersediaan air. Karena itu jauh dari jangkauan Sungai Mentaya, sehingga ini kesulitan kita bagaimana upaya mendapatkan air," kata Halikinnor, Minggu (18/10/2026).
Sumur Bor dan Irigasi Tak Cukup Suplai Air
Di Desa Ganepo, sejumlah sumur bor sudah dibangun sebagai sumber air. Namun penggunaannya tidak maksimal karena debit air cepat habis setelah sekali penyedotan.
Saluran irigasi di sekitar lokasi juga baru terisi ketika air pasang. Kondisi ini memaksa petugas menunggu sebelum bisa kembali menyedot air.
"Kita sudah membangun sumur bor, tetapi tidak mencukupi. Misalnya ada airnya, begitu sekali sedot, itu sudah habis, kita menunggu dulu. Bahkan kadang-kadang ada jaringan irigasi, itu menunggu air pasang baru bisa ada air. Jadi kendala utama kita adalah air," ujarnya.
Petugas Harus Jalan Kaki Menembus Titik Api
Akses menuju titik api di Camba tidak bisa dilalui kendaraan. Petugas terpaksa berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadaman.
Kondisi berbeda terjadi di kawasan perkotaan Kotim yang relatif lebih terkendali. Pemadaman di sana lebih cepat karena mendapat suplai air dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melalui profil tank yang diangkut kendaraan bak terbuka.
Untuk Ganepo, lokasinya berada di seberang Sungai Mentaya sehingga menyulitkan mobilisasi personel dan peralatan.
Regu Pemadaman Ditambah, Helikopter Water Bombing Diharapkan
Pemkab Kotim akan menambah regu pemadaman di dua lokasi tersebut. Sarana pendukung seperti selang dan embung portable juga akan ditambah.
"Kita maksimalkan, regunya kita tambah, juga sarana prasarananya seperti selang dan juga embung portable kita tambah. Kita evaluasi setiap minggu, apakah upaya yang kita lakukan itu sudah maksimal, efektif, dan efisien, dan bisa memadamkan api tersebut," tegas Halikinnor.
Evaluasi penanganan dilakukan setiap pekan untuk menilai efektivitas operasi lapangan. Selain operasi darat, Pemkab Kotim berharap dukungan helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses tim darat.
Status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan Kotim sebelumnya telah diperpanjang 15 hari. Status itu berlaku hingga 30 Oktober 2025.