KALIMANTAN TENGAH — Saat bayi lahir pervaginam, wajahnya bisa terlapisi kotoran ibu yang keluar akibat tekanan persalinan. Kondisi yang sering bikin kaget ini ternyata berperan penting membentuk mikrobioma usus dan sistem kekebalan tubuh bayi. Simak penjelasan pakar soal manfaatnya.
Persalinan pervaginam memang jadi momen pertama bayi terpapar bakteri hidup. Saat melewati jalan lahir, tubuh bayi terlapisi mikroba dari tubuh ibunya, termasuk yang berasal dari usus.
Paparan ini bukan sekadar proses yang kebetulan. Para peneliti menyebutnya sebagai mekanisme evolusi yang memastikan bayi menerima mikroba paling tepat untuk mengolonisasi usus mereka sejak awal kehidupan.
Mengapa Wajah Bayi Bisa Kena Kotoran Ibu
Pada posisi persalinan ideal atau occiput anterior, kepala bayi menghadap ke bawah ke arah punggung ibu dengan dagu menempel di dada. Posisi ini membuat kepala bayi menekan rektum ibu saat bergerak turun melalui jalan lahir.
Tekanan tersebut mendorong keluarnya feses tepat saat bayi lahir. Akibatnya, hal pertama yang dilihat bayi saat memasuki dunia bisa jadi adalah isi usus ibunya.
Dikutip dari laman University of New South Wales, Australia, kejadian ini jauh dari sekadar kebetulan. Ini tampaknya merupakan mekanisme yang memastikan bayi mendapat mikroba paling sesuai untuk mengkolonisasi usus mereka.
Peran Mikrobioma Usus untuk Kekebalan Tubuh Bayi
Setiap orang mengembangkan mikrobioma usus setelah melewati hari-hari pertama kehidupan. Komunitas bakteri, jamur, dan virus ini berperan vital bagi kesehatan, mulai dari mengurai serat sulit dicerna hingga menyediakan enzim untuk sintesis vitamin tertentu.
Keberadaan mikroba ini juga melindungi tubuh dari patogen berbahaya. Sebagian bahkan melepaskan antibiotik alami untuk membasmi mikroba asing yang menyerang.
"Profil mikroba yang nyata di dalam saluran pencernaan baru terbentuk sekitar tiga atau empat hari setelah kelahiran. Jadi, dibutuhkan waktu beberapa hari bagi mikroba untuk mulai melakukan kolonisasi," ujar Nigel Field, profesor epidemiologi penyakit menular di University College London (UCL) yang memimpin proyek Baby Biome.
Field menambahkan, bayi pada dasarnya terlahir dalam kondisi steril. Momen ini jadi luar biasa bagi sistem kekebalan tubuh karena seluruh permukaan tubuh belum pernah bersentuhan dengan mikroba sebelumnya.
Mikroba Pertama Ibarat Arsitek Sistem Kekebalan
Archita Mishra, dosen senior di University of Sydney, Australia, menyebut mikroba pertama yang mengolonisasi saluran pencernaan bayi ibarat arsitek bagi sistem kekebalan tubuh. Peran ini membantu tubuh melatih diri membedakan kawan dan lawan.
Mikroba tersebut mengajarkan sel-sel kekebalan cara menoleransi antigen makanan dan mikroba tidak berbahaya, sekaligus membangun pertahanan terhadap patogen.
Menurut Mishra, komunitas bakteri yang terbentuk dalam enam hingga 12 bulan pertama menentukan risiko alergi, respons anak terhadap vaksin, dan fungsi penghalang usus. Lapisan ini memisahkan isi usus dari bagian tubuh lainnya.
"Seribu hari pertama kehidupan tampaknya menjadi masa krusial di mana mikrobioma usus meninggalkan jejak yang bertahan selama beberapa dekade," ujarnya.
Bukan Lactobacillus, tapi Bakteri Usus Ibu
Dulu, bakteri dominan di jalan lahir yaitu Lactobacillus diyakini sebagai mikroba pertama dan terpenting bagi mikrobioma usus bayi. Bakteri ini mudah dikembangbiakkan di laboratorium dan dikenal luas sebagai bakteri baik.
Namun, meski bayi terpapar Lactobacillus saat lahir, bakteri ini tidak bertahan lama di dalam usus mereka. Mikroba yang jadi fondasi mikrobioma usus bayi baru lahir justru sebagian besar berasal dari usus ibu, bukan vaginanya.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan mikrobioma usus yang berfungsi baik dapat memberi perlindungan terhadap kondisi seperti kecemasan, depresi, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Jangan Sengaja Oleskan Tinja ke Wajah Bayi
Meski paparan alami saat persalinan punya manfaat, para pakar menegaskan hal ini tidak bisa ditiru dengan sengaja. Mengoleskan tinja ke wajah bayi adalah tindakan berbahaya dan bisa menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa.
Jumlah dan sumber bakteri pada tinja yang sengaja dioleskan tidak sama dengan yang terjadi secara alami saat persalinan. Cara bakteri masuk ke tubuh bayi pun berbeda, sehingga risikonya jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Proses alami saat kelahiran pervaginam sudah dirancang tubuh untuk memberi bayi mikroba yang tepat. Tidak ada cara instan atau buatan yang bisa menggantikan mekanisme ini dengan aman.