PALANGKA RAYA — Ribuan titik panas yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih terdeteksi hingga pekan ini. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan Forkopimda terus mengintensifkan patroli darat serta pemadaman, terutama di kawasan gambut yang rawan api muncul kembali dari bara tersembunyi.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyebut konsentrasi hotspot tersebar signifikan di empat wilayah utama: Palangka Raya, Sampit, Pulang Pisau, dan Pangkalan Bun. Meski kabut asap mulai terlihat di sejumlah titik, ia menegaskan kondisi itu belum mengganggu aktivitas harian warga.
Jarak Pandang Masih Aman, Berbeda dengan 2015
“Jarak pandang di Kalimantan Tengah saat ini masih aman. Ini masih sangat jauh dibandingkan tahun 2015,” ujar Agustiar di Palangka Raya, Rabu (19/8/2026).
Ia mencontohkan, pada 2015 lalu kabut asap sempat membuat bandara tidak beroperasional karena visibilitas sangat terbatas. Adapun saat ini, jadwal penerbangan di sejumlah bandara daerah masih berjalan normal.
“Kalau sekarang itu masih terkendali. Bahkan dulu pesawat juga tidak bisa beroperasional karena kabut asap, tetapi saat ini pesawat masih bisa beroperasional,” katanya.
Fokus Pemadaman di Lahan Gambut
Penanganan karhutla tahun ini menuntut kerja ekstra di lahan gambut. Petugas gabungan tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan untuk menjangkau bara yang bersembunyi di lapisan tanah.
Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah api muncul kembali setelah pemadaman awal. Jika titik api tidak segera dikendalikan, Kalteng berisiko menghadapi kabut asap lintas batas yang berdampak pada kesehatan dan ekonomi.
Gubernur Minta Warga dan Wartawan Ikut Awasi
Agustiar menekankan bahwa pengendalian karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Ia secara khusus meminta peran aktif masyarakat dan insan pers untuk ikut mengawal perkembangan di lapangan.
“Saya juga minta masyarakat dan wartawan untuk mengawal penanganan karhutla ini. Dengan kolaborasi dan sinergi kita semua, agar karhutla di Kalimantan Tengah bisa terkendali,” tegasnya.
Pemerintah provinsi kini memantau secara berkala potensi kebakaran baru, sebaran hotspot, serta dinamika jarak pandang di seluruh kabupaten. Kewaspadaan tetap dijaga meski kondisi saat ini belum memasuki level darurat seperti delapan tahun silam.