PALANGKA RAYA — Suasana berbeda terlihat di sebuah kafe di pusat Kota Palangka Raya, Jumat (24/7/2026). Para pembeli tak lagi merogoh dompet berisi uang tunai. Mereka cukup memindai kode QR di meja kasir menggunakan ponsel pintar. Transaksi selesai dalam hitungan detik.
Pemandangan ini bukan lagi pengecualian. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada triwulan II 2026 mencapai 16,07 miliar secara nasional. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 36,88 persen secara tahunan atau year on year.
Perluasan Akseptasi Jadi Kunci Pertumbuhan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah menyebut perluasan akseptasi menjadi faktor utama di balik lonjakan ini. Semakin banyak pedagang, dari kafe hingga pedagang kaki lima, yang menyediakan opsi pembayaran nontunai.
"QRIS menjadi jembatan antara UMKM dan gaya hidup masyarakat yang serba cepat. Tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian atau khawatir uang palsu," ujar seorang pengelola kafe di Palangka Raya yang telah menerapkan sistem ini sejak 2024.
UMKM Mulai Beralih ke Nontunai
Pergeseran kebiasaan ini tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan modern. Di sejumlah pasar tradisional di Palangka Raya, para pedagang mulai memasang stiker QRIS di lapak mereka. Beberapa di antaranya mengaku omzet harian justru meningkat karena pelanggan lebih leluasa berbelanja tanpa terbatas uang tunai yang dibawa.
Bank Indonesia terus menggencarkan sosialisasi dan memberikan insentif bagi para pelaku usaha mikro untuk mengadopsi sistem ini. Langkah itu sejalan dengan visi pemerintah mempercepat digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Meski demikian, tantangan masih ada. Konektivitas internet di beberapa wilayah pinggiran Palangka Raya masih menjadi kendala. BI bersama pemerintah daerah tengah mendorong penyediaan infrastruktur pendukung agar ekosistem pembayaran digital bisa merata hingga ke pelosok.
Transaksi Digital Diprediksi Terus Melonjak
Dengan tren saat ini, Bank Indonesia optimistis volume transaksi digital akan terus bertambah hingga akhir tahun. Dukungan dari perbankan dan penyedia jasa pembayaran dinilai cukup kuat untuk menjaga momentum ini.