ISPA Karhutla Tembus 306 Ribu Kasus, Balita Paling Rentan

Penulis: Puguh Triyono  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23:01 WIB
Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla per 18 Oktober 2026.

KALIMANTAN TENGAH — Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla per 18 Oktober 2026, dengan 69.015 di antaranya dialami balita. Kenali gejala, kelompok rentan, dan langkah perlindungan yang bisa ibu lakukan di rumah.

Bagi ibu yang tinggal di daerah terdampak asap, data ini bukan sekadar statistik. Saluran napas bayi dan anak masih berkembang, sehingga paparan partikel asap lebih mudah memicu batuk, pilek, hingga sesak.

Siapa yang Paling Berisiko Terkena ISPA?

Balita usia 0–5 tahun menempati kelompok dengan kasus terbanyak kedua setelah anak usia 6–9 tahun yang mencapai 77.022 kasus. Lansia juga masuk daftar rentan dengan 49.680 kasus.

Kelompok lain yang perlu perhatian ekstra adalah pengidap asma. Kemenkes mencatat 22 kasus ISPA pada kelompok ini, angka yang terlihat kecil tapi berisiko tinggi karena asap bisa memicu serangan akut.

Apakah Tren Kasus Mulai Menurun?

Kemenkes melaporkan penambahan kasus harian sedikit melandai, dari 2.808 kasus pada 16 Oktober menjadi 2.778 kasus sehari berikutnya. Penurunan tren terlihat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan.

Riau jadi pengecualian. Di provinsi itu, penambahan kasus ISPA masih meningkat, sehingga ibu yang tinggal di sana sebaiknya tetap waspada dan tidak lengah meski daerah lain mulai membaik.

Gejala ISPA pada Balita yang Perlu Diwaspadai

ISPA ringan biasanya muncul sebagai batuk, pilek, dan tenggorokan gatal. Pada bayi, gejalanya kadang tidak khas: rewel terus-menerus, susah menyusu, atau napas berbunyi.

Waspadai tanda yang mengarah ke gangguan napas serius, seperti napas cepat, tarikan di bawah tulang rusuk, bibir kebiruan, atau anak tampak lemas. Kondisi seperti ini butuh pemeriksaan dokter segera, bukan penanganan di rumah saja.

Cara Melindungi Anak dari Paparan Asap

Langkah paling sederhana adalah mengurangi paparan. Saat kualitas udara memburuk, batasi anak bermain di luar rumah dan tutup jendela agar asap tidak masuk.

  • Gunakan penyaring udara di ruangan tempat anak tidur jika tersedia, dan bersihkan filter secara berkala.
  • Pastikan anak cukup minum agar lendir saluran napas tidak mengental.
  • Hindari membakar sampah atau menggunakan obat nyamuk bakar di dalam rumah.
  • Jika harus keluar, pilih masker yang sesuai ukuran wajah anak, bukan masker orang dewasa yang longgar.

Kapan Harus ke Dokter?

Bawa anak ke fasilitas kesehatan jika batuk berlangsung lebih dari seminggu, demam tinggi tidak turun, atau napasnya terlihat cepat dan berat. Bayi di bawah satu tahun sebaiknya segera diperiksa begitu muncul gejala napas abnormal.

Untuk ibu hamil, lansia, dan anggota keluarga dengan asma, konsultasi lebih awal membantu mencegah perburukan. Jangan menunggu sampai sesak muncul.

Angka 306.309 kasus menunjukkan asap karhutla masih berdampak nyata pada kesehatan keluarga. Memantau kualitas udara harian, membatasi aktivitas luar ruang saat asap pekat, dan mengenali gejala napas pada anak adalah langkah kecil yang bisa menekan risiko ISPA di rumah.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top