PALANGKA RAYA — Kucing bernama Belang menjadi salah satu pasien yang kondisinya paling mengkhawatirkan. Hewan itu datang dalam keadaan lemas dan sesak napas akibat paparan asap yang berlangsung lama.
Dokter hewan yang menangani Belang langsung memasangkan oksigen, infus, dan suntikan pereda sesak. Terapi lampu inframerah juga diberikan karena suhu tubuh kucing tersebut menurun drastis.
Pasien lain bernama Embem mendapat penanganan berbeda. Kucing itu harus menjalani terapi uap dan dikarantina selama satu minggu untuk mengurangi lendir serta flu berat yang dideritanya.
Selama tiga bulan masa kabut asap, klinik dokter hewan di Palangka Raya menangani banyak kucing dengan keluhan serupa. Gejalanya hampir sama: sesak napas dan flu yang tak kunjung sembuh.
Kucing tergolong hewan yang rentan terdampak asap karena sistem pernapasannya sangat sensitif terhadap kualitas udara lingkungan. Paparan partikel asap dalam waktu panjang memperparah risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Melihat tingginya risiko fatal pada hewan peliharaan akibat asap, warga diimbau tidak menunda pemeriksaan. Begitu muncul gangguan pernapasan, hewan peliharaan sebaiknya langsung dibawa ke klinik agar mendapat penanganan tepat.
Dampak karhutla di Palangka Raya memang tidak berhenti di manusia. Kualitas udara yang memburuk turut memukul hewan peliharaan yang tinggal di rumah warga, dengan gejala ringan sampai berat.