SAMPIT — Rudianur menilai kawasan Ujung Pandaran yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa punya karakteristik berbeda dari wilayah perkotaan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kawasan tersebut relatif lebih aman dari kabut asap karena pengaruh angin laut.
"Selain itu, kalau melihat struktur tanah, malah lebih bagus di sana membangun daripada melanjutkan Bandara Haji Asan Sampit. Tapi kalau secara teknis memang saya tidak paham," ujarnya, Sabtu (17/10/2026).
Kabut asap karhutla membuat jarak pandang di Bandara H Asan Sampit tidak memenuhi standar keselamatan. Hampir satu bulan terakhir, aktivitas penerbangan di bandara tersebut lumpuh total.
Lebih dari 20 penerbangan dilaporkan dibatalkan atau ditunda selama periode itu. Gangguan tersebut menghambat mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga agenda pemerintahan.
Rudianur berharap pemerintah kembali melakukan survei terhadap kawasan Ujung Pandaran. Hasil survei itu akan menjadi bahan pertimbangan pengembangan transportasi udara jangka panjang.
"Kami juga punya pemikiran, melihat lumpuhnya Bandara Haji Asan Sampit dan juga Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, kenapa pemerintah tidak memikirkan membangun bandara yang permanen di Ujung Pandaran," katanya.
Gagasan relokasi bandara sebenarnya bukan hal baru. Wacana ini pernah mencuat pada 2015 karena keterbatasan pengembangan Bandara Haji Asan yang berdekatan dengan permukiman.
Namun, pemerintah daerah belakangan justru mendorong pengembangan bandara yang ada melalui kerja sama dengan Kementerian Perhubungan pada 2024. Arah kebijakan itu berbeda dengan usulan pemindahan yang kini kembali mengemuka.
Rudianur mengakui pembangunan bandara baru harus melalui kajian teknis dan komprehensif, termasuk survei kelayakan lokasi. Ia menyerahkan soal perhitungan teknis kepada pemerintah.
"Harapan kami pemerintah berpikir jernih ke depan. Paling tidak bandara di wilayah Ujung Pandaran itu disurvei lagi, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan," demikian Rudianur.