PKET: SDM Industri Hijau RI Harus Kuasai Baterai hingga Smart Grid

Penulis: Rendi Kusuma  •  Rabu, 30 September 2026 | 11:53:01 WIB
Ketua PKET Sim Budiman Setiawan berbicara dalam Evolution Indonesia Forum 2026 yang disiarkan melalui kanal YouTube CNN Indonesia, Rabu (30/9).

KALIMANTAN TENGAH — Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET) menyebut Indonesia perlu membangun integrated green work force dalam lima tahun ke depan, mencakup kemampuan mendesain hingga memelihara teknologi industri hijau. Chairman PKET Sim Budiman Setiawan menilai kompetensi SDM saat ini masih terbatas pada perakitan, belum menyentuh produksi sel baterai secara mandiri.

Sim Budiman Setiawan membeberkan daftar kompetensi yang harus dikuasai sumber daya manusia Indonesia agar tidak sekadar menjadi pasar bagi produk teknologi hijau impor. Ia berbicara dalam acara Evolution Indonesia Forum 2026 yang digelar Rabu (30/9) dan disiarkan melalui kanal YouTube CNN Indonesia.

Menurut Budiman, fondasi utama yang harus dibangun adalah integrated green work force, yakni SDM yang mampu mendesain, mengembangkan, mengintegrasikan, mengoperasikan, dan memelihara teknologi industri hijau secara menyeluruh.

Enam Kompetensi Energi Terbarukan yang Wajib Dikuasai

Kendaraan listrik dan industri rendah karbon, kata Budiman, tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem energi yang bersih dan andal. Dari situ muncul kebutuhan kompetensi yang spesifik.

  • Renewable energy
  • Baterai dan energy storage system
  • Smart grid power electronic
  • Energy management system
  • Charging infrastructure
  • Perawatan kendaraan listrik berbasis IoT dan AI

"Itu dibutuhkan kompetensi renewable energy. Ada baterai, energy storage system, smart grid power elektronic, energy management system, dan tentunya charging infrastructure," ujar Budiman.

Dari Perakitan ke Produksi Sel Baterai

Persoalan mendasar yang diangkat Budiman adalah posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Selama ini, kompetensi SDM domestik lebih banyak berkutat pada assembling atau perakitan, bukan produksi langsung.

Ia berharap dalam lima tahun ke depan Indonesia mampu memproduksi sel baterai sendiri. Baterai menjadi komponen kunci karena nilainya mendominasi struktur biaya kendaraan listrik.

Jika kompetensi itu terpenuhi, Budiman optimistis Indonesia bisa menghasilkan produk lokal untuk kebutuhan produksi kendaraan listrik, tidak lagi bergantung pada komponen impor.

Sistem Energi Masa Depan Butuh Kendali Digital

Kompetensi lain yang tidak kalah penting adalah perawatan kendaraan listrik. Berbeda dari kendaraan berbahan bakar fosil, kendaraan listrik mengandalkan perangkat digital yang saling terhubung.

"Sistem energi masa depan harus bisa dikontrol karena kita ketahui bersama EV ini menggunakan IoT, sensor data, AI, fiber security, dan juga energi manajemen sistem," ujar Budiman.

Artinya, tenaga kerja yang menangani kendaraan listrik tidak cukup memahami mesin. Mereka perlu menguasai sistem kontrol berbasis data, keamanan siber, dan manajemen energi yang terintegrasi.

Forum Dua Sesi Bahas Ekosistem Mobilitas Rendah Emisi

Evolution Indonesia Forum 2026 dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama menghadirkan Patia J Monangdo dari Kementerian Perindustrian, Handojo K Setyadi dari PT Pollux Hotels Group Tbk, Suzanty Sitorus dari ViriyaENB, dan Budiman sendiri.

Sesi kedua membahas perkembangan kendaraan listrik, biofuel, kendaraan komersial rendah emisi, serta kebijakan pemerintah dalam mempercepat transformasi transportasi hijau. Diskusi mengeksplorasi keterkaitan antara pengembangan sumber energi, inovasi teknologi kendaraan, kesiapan industri, infrastruktur, dan kebijakan dalam membangun ekosistem mobilitas rendah emisi yang lebih luas.

Bagi pelaku industri, daftar kompetensi yang dipaparkan PKET memberi sinyal jelas soal arah kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan di sektor energi, otomotif, dan teknologi perlu menyiapkan program pelatihan internal atau bermitra dengan lembaga vokasi jika tidak ingin kehilangan momentum transisi energi.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top