KALIMANTAN TENGAH — Bank Indonesia menahan suku bunga acuan meski The Fed kembali menaikkan Federal Funds Rate. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kenaikan BI-Rate 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan kondisi domestik yang masih bergerak di bawah level potensial.
Berdasarkan asesmen BI, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. BI menilai kenaikan suku bunga justru berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
"Kalau BI-Rate naik 25 basis poin, maka economic growth itu akan turun 0,1%. Misalnya economic growth-nya 5,4%, [maka] dia jadi 5,3%," kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, dikutip Selasa (29/9/2026).
Asesmen tersebut menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakan moneter. Inflasi domestik dinilai masih terkendali, sementara ekonomi Indonesia masih bergerak di bawah level potensial.
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,4%. Kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin akan memangkas proyeksi tersebut menjadi 5,3%.
Keputusan menahan BI-Rate ini berbeda dari langkah The Fed yang kembali menaikkan suku bunga acuannya. BI memilih fokus pada stabilitas ekonomi domestik ketimbang mengikuti pengetatan moneter global.
Langkah BI menahan suku bunga acuan mencerminkan prioritas pada pertumbuhan ekonomi. Tekanan dari kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang harus diimbangi dengan kondisi domestik.
Inflasi domestik yang terkendali memberi ruang bagi BI untuk tidak menaikkan suku bunga acuan. Ekonomi Indonesia yang masih bergerak di bawah level potensial menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan tersebut.
Keputusan ini diambil melalui rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. BI menegaskan arah kebijakan moneter akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi domestik dan global.