KALIMANTAN TENGAH — Malaysia menargetkan investasi 500 miliar ringgit atau sekitar Rp2,1 kuadriliun di industri semikonduktor pada 2030. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyampaikan target tersebut saat acara WorldSkills di Shanghai, China, Rabu (23/9). Pemerintah Malaysia menyiapkan tenaga terampil lewat reformasi pendidikan vokasi yang diarahkan ke industri cip, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa target investasi semikonduktor itu hanya bisa dicapai jika pasokan tenaga teknis ikut disiapkan. Karena itu, pemerintah Malaysia mempercepat reformasi pendidikan dan pelatihan teknik serta kejuruan yang mereka sebut TVET 2.0. Program ini menyasar tiga sektor sekaligus: cip semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan energi terbarukan.
Anwar menyampaikan hal itu di hadapan peserta WorldSkills di Shanghai. Malaysia, katanya, sedang memperkuat posisinya di industri manufaktur berteknologi tinggi. Target 500 miliar ringgit pada 2030 menjadi angka yang dipasang untuk mengukur seberapa jauh ambisi tersebut.
Inti perubahan di TVET 2.0 adalah hubungan antara perusahaan dan lembaga pelatihan. Anwar ingin keduanya lebih rapat supaya lulusan pelatihan vokasi langsung sesuai kebutuhan pabrik. Selama ini, jarak antara kurikulum pelatihan dan kebutuhan industri sering jadi masalah di banyak negara Asia Tenggara.
Dengan mempererat kerja sama itu, Malaysia berharap penyiapan tenaga kerja untuk industri semikonduktor, AI, dan energi terbarukan berjalan lebih cepat. Anwar menyebut tenaga teknis sebagai penopang utama industri modern.
"Ekonomi modern tidak dapat berjalan tanpa teknisi yang menjaga agar jalur produksi semikonduktor tetap berjalan atau memastikan produksi kendaraan listrik beroperasi sesuai jadwal," kata Anwar.
Malaysia juga memanfaatkan kemitraan strategis komprehensif dengan China untuk memperluas peluang pendidikan dan pelatihan teknik serta kejuruan. Menurut Anwar, kerja sama kedua negara sudah membuka akses pelatihan yang lebih luas bagi tenaga kerja Malaysia.
Di tingkat kawasan, Malaysia menjalankan agenda pengembangan lapangan kerja ramah lingkungan. Program ini disiapkan untuk membekali tenaga kerja Asia Tenggara menghadapi peralihan ke ekonomi yang lebih hijau. Ada pula dorongan agar kualifikasi teknis diakui antarnegara melalui percontohan ASEAN Digital Skills Passport.
Program passport keterampilan digital itu menjadi bagian dari upaya mempermudah pengakuan keterampilan tenaga kerja lintas negara di ASEAN. Bagi pekerja teknis, pengakuan ini menentukan seberapa mudah mereka berpindah proyek antarnegara tanpa harus mengulang sertifikasi dari awal.
Industri semikonduktor menjadi taruhan besar Malaysia. Permintaan cip global terus tumbuh seiring pemakaian kendaraan listrik, pusat data, dan perangkat AI. Negara-negara di kawasan berlomba menarik investasi pabrik dan fasilitas pengujian cip.
Tanpa tenaga teknis yang cukup, target investasi sebesar apa pun sulit terealisasi. Pabrik semikonduktor butuh teknisi terlatih untuk menjaga lini produksi tetap berjalan, sementara fasilitas perakitan kendaraan listrik butuh pekerja yang paham jadwal produksi ketat. Inilah alasan Malaysia menempatkan pendidikan vokasi sebagai bagian dari strategi investasinya, bukan program terpisah.