Laba United Tractors Anjlok 48% ke Rp4,3 Triliun, Penjualan Emas Merosot 82%

Penulis: Surya Dinata  •  Selasa, 08 September 2026 | 09:22:01 WIB
Penurunan laba United Tractors sebesar 48% menjadi Rp4,3 triliun dipicu oleh anjloknya penjualan emas dari Tambang Martabe.

KALIMANTAN TENGAH — Direktur United Tractors Andreas mengungkapkan, penurunan ini terutama dipicu oleh anjloknya penjualan emas dari Tambang Martabe yang dikelola anak usahanya, PT Agincourt Resources. "Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua," ujarnya dalam Public Expose Live, Senin (7/9).

Produksi Emas Jauh di Bawah Target

Sempat terhenti operasionalnya, Tambang Emas Martabe membuat total penjualan setara emas United Tractors—gabungan dari Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya—hanya mencapai 32 ribu ons hingga Juli 2026. Jumlah ini jauh di bawah capaian 143 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu, atau merosot hingga 82%.

Selain itu, perusahaan juga membukukan beban non-rutin (non-recurring items) senilai Rp3,3 triliun. Pos ini berasal dari penurunan nilai aset Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait aktivitas di kawasan hutan untuk Tambang Nikel Stargate.

Segmen Alat Berat Ikut Tertekan Kebijakan RKAB

Bukan hanya emas, bisnis utama United Tractors di sektor alat berat juga terdampak kebijakan pemerintah. Alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah membuat penjualan alat berat Komatsu turun 23% menjadi 2.393 unit hingga Juli 2026. Penjualan mesin tambang besar (big mining) bahkan anjlok 49% menjadi hanya 405 unit.

Akibatnya, pendapatan segmen alat berat turun 28% menjadi Rp15,0 triliun. Kondisi serupa dialami segmen pertambangan batu bara lewat PT Tuah Turangga Agung, dengan volume penjualan yang susut 18% menjadi 6,5 juta ton.

Kontraktor Tambang Jadi Penyelamat

Di tengah tekanan, masih ada lini bisnis yang tumbuh. Segmen kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada mencatat pendapatan naik 4% menjadi Rp27,2 triliun, terbantu penguatan kurs dolar AS. Kedua anak usaha ini juga mulai melebarkan sayap ke sektor emas dan nikel untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.

Sementara itu, anak usaha di bidang nikel, PT Stargate Pasific Resources, membukukan penjualan bijih nikel 973 ribu wmt. United Tractors juga mengantongi kontribusi dari Nickel Industries Limited (NIC), perusahaan yang 20,13% sahamnya mereka kuasai.

Utang Naik Usai Akuisisi dan Buyback

Dari sisi neraca, posisi kas perusahaan berbalik menjadi utang bersih Rp9,4 triliun per 30 Juni 2026, dengan rasio gearing 8,5%. Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, UNTR masih menikmati kas bersih Rp7,7 triliun. Perubahan ini dipicu oleh aksi akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali (buyback) saham yang agresif.

Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, perseroan terus menggenjot bisnis pendukung seperti engineering, manufaktur komponen alat berat, hingga layanan logistik maritim dan galangan kapal. Langkah ini diharapkan mampu menopang kinerja di tengah siklus komoditas yang sedang lesu.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top