PALANGKA RAYA — Bangunan monumental seluas 80 x 170 meter itu mulai dikerjakan pada tahun ini. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyebut pemilihan kayu ulin bukan tanpa alasan. Material ini dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca ekstrem dan serangan rayap, sehingga cocok untuk konstruksi jangka panjang.
“Rumah Betang ini dibuat pakai kayu ulin supaya kuat berabad-abad. Hampir 80 persen ulin semua,” ujarnya saat meninjau lokasi proyek, Kamis (23/7).
Gubernur menegaskan Huma Betang tidak sekadar menjadi bangunan fisik. Ia dirancang sebagai pengingat sejarah dan identitas budaya bagi generasi mendatang. Menurut Agustiar, kemajuan daerah tidak boleh menghilangkan warisan leluhur.
“Harapannya begini, generasi sekarang jangan sampai tidak punya landasan, tidak punya sejarah. Kita tidak ingin itu,” katanya.
Ia mencontohkan negara maju yang tetap menjaga tradisi di tengah modernisasi. “Kalau negara maju, mereka ingin budaya-budaya sebelumnya tetap dilestarikan. Intinya budaya jangan sampai tergerus sama zaman,” ucapnya.
Selain sebagai ikon budaya, bangunan ini mampu menampung hingga sekitar 8.000 orang. Rencananya, Huma Betang akan difungsikan sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.
Pemprov juga mengembangkan kawasan sekitarnya menjadi destinasi wisata terpadu. Akan ada wisata kuliner, produk herbal, serta berbagai makanan khas Dayak yang disajikan di area tersebut.
“Tentunya ini tempat wisata baru, suatu inovasi baru. Di sini tempatnya wisata kuliner, herbal, semuanya ada nanti. Ada makanan-makanan khas Dayak juga, jadi jangan sampai hilang itu,” tutur Agustiar.
Pembangunan tahap pertama Huma Betang didukung anggaran sebesar Rp39,2 miliar yang bersumber dari APBD Kalimantan Tengah Tahun 2026. Bangunan utama dirancang berukuran sekitar 80 x 170 meter.
Proyek ini menjadi salah satu prioritas Pemprov Kalteng dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata daerah. Dengan material kayu ulin yang mendominasi, Huma Betang diharapkan menjadi saksi bisu peradaban Dayak untuk generasi-generasi mendatang.