Teori paling liar — sekaligus paling emosional — menyebut Doctor Doom bukan varian Tony Stark, melainkan pencuri identitas. Konsep Anchor Being dari Deadpool & Wolverine jadi dasarnya: setiap alam semesta punya satu sosok penopang realitas. Earth-616 kehilangan Tony Stark di Endgame, dan realitas mulai retak.
Doom, ahli sains dan sihir dari dimensi lain, disebut mengambil alih jasad Stark. Ia memindahkan kesadarannya ke tubuh pahlawan yang gugur itu. Hasilnya: Spider-Man, Pepper Potts, dan seluruh Avengers harus berhadapan dengan wajah sahabat mereka sendiri — perang psikologis brutal, bukan sekadar pertarungan fisik.
Teori kedua membalik narasi: Doom adalah Tony Stark dari alam semesta lain yang gagal menjadi pahlawan. Di dimensinya, Stark menciptakan sistem pertahanan global yang berubah menjadi rezim totaliter. Para sekutunya memberontak, memenjarakannya, dan meninggalkannya mati.
Ia selamat, menyembunyikan identitasnya, dan kembali sebagai Victor von Doom — seorang "penyelamat" yang menggunakan teknologi dan sihir untuk memperbaiki masalah multiversal. Publik memujanya sebagai figur kultus. Diam-diam, ia merencanakan balas dendam terhadap gagasan kepahlawanan itu sendiri. Kejeniusannya: menghentikan Doom justru membuat Avengers terlihat seperti ancaman bagi dunia.
Ingat adegan Steve Rogers yang memilih tetap tinggal di masa lalu bersama Peggy Carter? Teori ketiga menuduh keputusan sentimental itu sebagai awal kehancuran multiversal. Dengan hidup terlalu lama di linimasa alternatif, Steve secara tidak sengaja menciptakan riak destabilisasi.
Salah satu dampaknya: Howard Stark menjalani takdir berbeda. Tony Stark tidak pernah menjadi Iron Man. Sebaliknya, garis keturunan Stark berevolusi menjadi keluarga penguasa Latveria — alias Von Doom. Dengan kata lain, para pahlawan sendirilah yang bertanggung jawab atas kelahiran musuh terbesar mereka.
Teori keempat melibatkan Franklin Richards, putra Reed Richards dan Sue Storm dari The Fantastic Four. Dalam adegan pasca-kredit yang dikabarkan, Doom mengunjungi rumah Richards empat tahun setelah peristiwa film pertama. Ia bertemu Franklin yang masih kecil — tetapi memiliki kemampuan mengubah realitas.
Doom membujuk anak itu untuk menyentuh wajahnya yang cacat. Secara bawah sadar, Franklin menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Doom. Hasilnya: wajah Doom berubah menyerupai Tony Stark — figur paling dipercaya di MCU. Dengan wajah itu, Doom bisa masuk ke mana saja tanpa kecurigaan.
Bagi penonton Indonesia yang setia sejak Iron Man 2008, teori-teori ini bukan sekadar spekulasi liar. Mereka menunjukkan bahwa Marvel Studios siap mengambil risiko naratif besar. Kembalinya Robert Downey Jr. sebagai Doctor Doom — apa pun penjelasannya — akan menjadi momen yang mendefinisikan ulang hubungan emosional penonton dengan karakter ikonik itu.
Belum ada konfirmasi resmi dari Marvel. Tapi satu hal pasti: diskusi di grup WhatsApp dan forum penggemar Tanah Air akan semakin panas hingga Desember mendatang. Tanpa trailer pun, Avengers: Doomsday sudah menjadi film paling dibicarakan tahun ini.